Tale of Bloomingdale

Dream's Spark

Ada saatnya aku mengatupkan kedua tangan dan membuka mata. Mendengarkan kicau burung, merasakan desir angin, atau semacamnya. Menapaki setapak bersisian ilalang yang selalu melayu karena ringkihnya. Atau sekedar menyapa segerombolan bocah bertelanjang kaki yang menyanyikan lagu orang dewasa tanpa tahu artinya. Aku yang kecil, berada di sepetak ranah sempit yang mungkin hanya meraup beberapa milimeter kubik saja dalam peta. Aku yang kerdil, menjejak tanah yang mereka katakan terpencil, namun mampu melihat dunia dengan leluasa.

Ada kalanya aku membuka kedua tangan dan mengatupkan kelopak mata. Melarikan diri dari tekanan yang menuntut kesempurnaan dan kegigihan. Menjauh dari bising dan adu ego yang semakin sengit dari hari ke hari. Atau sekedar bercerita dan menumpahkan luapan yang tak terkatakan pada sesama manusia. Aku yang lain, terikat dalam dunia raksasa yang bahkan mereka rasa lebih hebat dari Yang Maha Kuasa. Aku yang kini besar, kasar liar, dan hanya mengagungkan kata lapar.

(Source: michmemoirs, via saridewia)

(via fairycandles)

Mungkin terlalu merindu. Atau justru telah berubah menjadi kaku? Tak tahu. Tak pernah tahu. Tak ingin tahu. Tidakkah takut kalau memang ada yang terbelenggu? Yang mendesak keluar dari dada dan mengenyahkan candu?

(via pervaliduss)

I heart my dashboard!